Blog Arif'Jayarana

facebook google twitter tumblr instagram linkedin


Komikus yang hadir :

Mee Fong, Tsubasa Nori, Calista, Cynara, Anzu Hizawa, Papilon Studio.

Bermula dari Bpk Dwianto Setyawan menceritakan tentang tabloid Hoplaa yang dulu dikelolanya berusaha membuat diferensiasi produknya dari majalah majalah sejenis yaitu dengan mengadopsi trend manga, majalah Hoplaa membuat wadah bagi para komikus muda dengan cara menerima komik lokal.

Dari proses itu beberapa komikus mampu menembus Elex, dari sana Bpk Dwianto Setyawan menangkap bahwa potensi dan keinginan orang Indonesia untuk membuat komik sangat besar tetapi hal itu perlu didukung adanya wadah dan kesempatan , hal ini terbukti dalam sehari Elex menangani lebih dari 3 naskah komikus untuk kemudian didiskusikan maka dari itulah Elex sekarang hendak menerbitkan sebuah majalah komik lokal yang diharapkan disambut baik pula oleh komikus lokal agar industri komik Indonesia dapat dibangun karena hal semacam ini menurut Bpk Dwianto Setyawan jarang ada, karena penerbit sekarang berorientasi bisnis. Selebihnya point point yang dibicarakan adalah sebagai berikut :

· Membangkitkan Komik Indonesia dengan cara menerbitkan komik komik Indonesia lama itu tidak realistis,

tetapi membangkitkan komik Indonesia dengan cara menerbitkan komik Indonesia yang mengikuti trend itu realistis

· Dari hasil survey Elexmedia faktor penentu pembaca membeli komik adalah :

1. Cerita

2. Gambar (detail detail dalam gambar)

3. Cover

4. Nama pengarang

· Elex berencana menerbitkan majalah komik lokal sebagai wadah untuk komikus lokal dengan tujuan memberi kesempatan untuk berperan serta, sebagai media untuk berekspresi hasil karya

· Workshop dan seminar di beberapa tempat tetapi karena jawa timur lebih luas komunitasnya maka lebih banyak diadakan di Surabay


Tentang majalah komik lokal :

1. konsep mirip Nakayoshi dan Shonen magazine format

2. direncanakan jadwal terbit bulanan

3. terbit untuk pertama kali tergantung persiapan dan kesangggupan komikus

4. isi:

· 6 komik bersambung

· 2 komik lepas

· 30-60 halaman per komik

· Artikel (interview komikus)

· Tips menggambar komik dan menulis cerita

· Kuis, bonus, Dll

5. komikus dituntut untuk mematuhi dead line (sebulan menyerahkan kurang lebih 40 halaman komik)

Menurut Bpk Dwianto Setyawan komik adalah gambar yang bercerita, komik adalah sebuah karya Desain Visual atau Sastra Visual. Komik adalah bentuk akhir dari hasrat dan pengalaman manusia untuk menceritakan pengalamannya sendiri melalui gambar dan tanda, contohnya candi Borobudur, Candi Prambanan ada cerita tentang kisah Ramayana, namun setelah ditemukannya kertas, mesin cetak, lahirlah buku komik dalam bentuk cetakan hingga jaman modern sekarang ini.

Komik adalah gambar yang bercerita maka sangat dituntut perpaduan antara gambar dengan isi dan jalan ceritanya. Namun dengan masuknya influence komik amerika, dan Hongkong tahun 70-80 an yang sangat berpengaruh ke komik Indonesia , terjadilah kebalikannya yaitu: text yang menjelaskan adegan, influence Amerika tidak bisa dipungkiri, hal ini terlihat jelas pada komik Indonesia sat itu, karena bermula dari gambar yang menceritakan kejadian menjadi text yang menjelaskan gambar.

Misal: dalam sebuah komik manga, adegan sebuah mobil melaju kencang menyusuri tepi geladak hingga akhirnya berhenti dijelaskan dengan gambar, adegan meninju lawan sampai dengan lawan mengaduh kesakitan juga dijelaskan dengan gambar dan banyak kolom, sedangkan komik Amerika dan Hongkong hanya memperlihatkan sebuah kolom dengan gambar si tokoh sedang meninju lawan lalu selebihnya dijelaskan dengan text yang berbunyi: maka ditinjunya sang lawan sampai mengaduh dan mengerang kesakitan.


Sejarah komik Indonesia

Dapat ditelusuri dari jaman pra sejarah terdapat pada monumen monumen keagamaan yang terbuat dari batu, kemudian ada wayang beber dan wayang kulit, kemudian pada tahun 50-60an komikus Indonesia ingin memproduksi komik asli Indonesia untuk menghadapi seruan komik Amerika dan kembali ke tema asal untuk ide cerita mereka yaitu wayang. Komikus pada saat itu adalah R.A. Kosasih. Dengan karyanya seri Ramayana dan Mahabarata.


Masa kejayaan komik Indonesia

· Komik Indonesia sempat berjaya pada tahun 60-70 an, beberapa komikus namanya sempat besar dan karyanya sempat diangkat kelayar lebar contohnya Jan Mintaraga, Ganes Th, Teguh Santosa, Zaldy, Sim, Djair, DLL dengan karyanya Si Buta Dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, Tuan Tanah Kedawung DLL. Pada masa ini komik Indonesia sangat berpengaruh pada remaja Indonesia , seperti Manga begitu mempengaruhi remaja Indonesia saat ini, juga mempengaruhi gaya ngomik komikus lokal. Pada tahun 1967 format komik menjadi seragam, ukurannya menjadi 13x 18 cm.

· Sempat pula terbit majalah tentang komik yang berjudul Eres. Majalah komik ini terbit sejak september 1969, berkat majalah ini komik mendapat kedudukan lebih terhormat, melalui berbagai ulasan, artikel, profil komikus, serta informasi informasi lainnya, lima sampai enam komikus menjadi penyumbang naskah untuk majalah tersebut pada setiap bulannya. Namun umur Eres hanya sebentar tahun 1971 Eres berhenti terbit. Komik Indonesia saat itu menjadi pusat perhatian, namun pada saat yang sama mendapat kritik pedas dari orang tua, karena dianggap sebagai bacaan tidak bermutu dan cenderung merusak moral. Hingga diberlakukan penyitaan oleh guru, karena dianggap barang haram, diberlakukan semacam sensor oleh pihak kepolisian terhadap komik Indonesia (lembaga sensor) karena vulgar dan violence.agar hal semacam ini tidak terjadi lagi perlu menunjukkan komik kepada orang tuasupaya orang tua mempunya nilai plus terhadap komik.


Pukauan Manga di Indonesia

Menggebrak trend komik Eropa walau dengan format yang berbeda, mengisi kekosongan yang terjadi karena tidak ada komik Indonesia , tahun 80 an itu juga penerbit Elex Media Komputindo mulai meluncurkan komik ala jepang (manga). diawali dengan Candy Candy kemudian disusul Dragon Ball, Kungfu Boy menancapkan pengaruhnya di Indonesia didukung oleh film animasi dan game, maka takheran jumlah pembacanya meledak dan tidak sedikit kaum muda yang mulai terpengaruh mulai mencoba coba menjadi mangaka atau membuat komik ala manga. dari saat itu kepopuleran komik Amerika dan Eropa tenggelam sementara Manga merajai belantara komik Indonesia . Didukung dengan kolaborasi sebuah tabloid yaitu Hoplaa dan penerbit PT ELex Media yaitu bermula dari pemuatan cuplikan komik jepang yang akan diterbitkan oleh PT Elex Media hingga pemuatan komik buatan pemula di Indonesia yang diyakini bila berkembang dapat menjadi mangaka yang handal. Namun hal ini bisa berhenti kalau tidak diikuti keseriusan para komikus untuk meningkatan kemampuan dan memperluas sudut pandang

Think Globaly, act localy

Persoalan bagaimana komikus komikus terutama sekarang yang sudah mampu menghadirkan karyanya dalam bentuk buku komik untuk terus meningkatkan terus kemampuannya, sudut pandangnya, bagaimana bertindak lokal tetapi berpikir global, paduan ini jika terjadi pastilah akan memperkaya dan memperkuat dunia perkomikan kita. Komik Indonesia hanya mungkin bangkit bila ada kerjasama yang erat dan terpadu antara komikus dan penerbit. Kerjasama yang serius dan konsisten, sehingga memungkinkan terbangun suatu sistem produksi yang konsisten

Awal juli 2004 komik Indonesia mempunya pasar, maka mangaka Indonesia harus ditingkatkan kualitasnyabaik ceritanya maupun gambarnya kalau Korea dan Taiwan bisa sukses dengan komik ber style manga seperti Ragnarok, Cheju Island mengapa Indonesia tidak? Tidak perlu sinis dengan gaya manga yang tidak suka silahkan membuat komik dengan gaya yang berbeda, biar pasar yang bicara. Gambar boleh manga tapi cerita harus mengandung muatan lokal misal : setting, budaya, kebiasaan, tapi memasukkan budaya lokal jangan terlalu keras karena masyarakat kita mindset nya masih belum menghargai budaya lokal, masih luar negri minded. Contoh: dulu awal mula sinetron ditayangkan di TVlokal bukan prime time sekarang sudah prime time karena semua hal memerlukan proses begitu pula komik Indonesia

Cerita, terdiri dari Struktur Cerita

· Inti cerita : misal cinderela sindrom

· Ide cerita : turunan dari inti cerita, bisa dari mana mana mis: koran, tv, film , DLL

· Plot cerita : pengembangan cerita/ alur cerita

1. perkenalan

2. konflik

3. konklusi (3 hal diatas bisa dibolak balik)

· karakter (PENTING untuk pemahaman tokoh)

1. lembut

2. kasar

3. cuek, DLL

semua hal diatas perlu dibuat untuk menjaga agar cerita dan lain lainnya tidak melenceng, pada cerita yang bagus: cerita boleh sedehana tetapi plotnya sangat kuat, dan semua itu dijalin menjadi OUTLINE cerita, sinopsis untuk dikirim ke penerbit.

Pengarang harus bisa membangun penceritaan, detail gambar.

Komik lokal yang mendapat sambutan baik adalah komik lokal yang :

  • mengikuti perkembangan
  • mengikuti trend (dulu ikut trend Amerika dan Hongkong sekarang Manga)
  • menggebrak pasar
  • memiliki konsep kuat
  • komik dibuat sebagai karya desain

Sumber : http://www.geocities.com

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Saat Ini kita melihat potensi besar manga sebagai salah satu media kreatif untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia, apalagi sekarang mulai muncul beragam manga lokal dari segala penjuru negeri. Menurutnya, melalui komik, secara langsung maupun tak langsung, pembaca bisa mempelajari kebudayaan yang ditampilkan dalam komik itu sendiri.

Medium penyampaian komiknya pun bisa bervariasi. Selain lewat buku atau majalah, versi digital yang ditampilkan dalam ponsel juga bisa menarik perhatian penikmatnya. Meski saat ini manga impor masih memimpin pasar komik dalam negeri, masih ada sisi positif yang bisa dilihat. Ketertarikan terhadap komik impor cenderung mendorong orang untuk mau belajar membuat komik sendiri.

Di sekolah komik mereka, misalnya, saya melihat kecenderungan perempuan lebih menyukai serial bergenre fantasi, drama, atau percintaan. Istilahnya komik serial cantik. Sementara pria, cenderung menyukai genre komik fantasi yang mengandung unsur aksi atau komedi. Jenis komik yang mereka sukai bisa dilihat dari hasil komik yang mereka ciptakan.

Untuk mengembangkan komik lokal, pun mereka aktif dalam berbagai kegiatan workshop, training, pameran, dan diskusi bersama jaringan dan komunitas komik lokal.

Saya Berharap, menyukai komic Indonesia yang akan menghasilkan komik berkualitas, tidak peduli apapun itu aliran dan sebutannya apakah komik, manga, maqita, atau cergam. "Semoga industri komik di Indonesia juga bisa terus aktif, bangkit, dan bisa makin luas diterima masyarakat, tidak dianggap semata sebagai hiburan,” tuturnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



“Manga” sebuah kata yang sudah pasti tak asing lagi di telinga kita. Tau kan apa itu manga? Manga adalah kata dalam bahasa jepang yang berarti “komik”. Tapi seiring berkembangnya produksi komik negeri sakura tersebut, maka istilah manga-pun dikenal dunia sebagai “komik buatan jepang”. Seperti Detective Conan, Rave, Naruto , dll. Semenjak tahun 1980-an awal manga mulai mendapat tempat khusus di kalangan penggmar komik Indonesia, bahkan kehadirannya membuat komik-komik buatan komikus-komikus Indonesia sendiri seakan “kelelep” tidak kuat bersaing.

Manga memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dengan komik-komik lain pada umumnya, diantaranya pada penggambaran wajah karakternya, yakni mata yang digambar besar dan bulat, mulut yang kecil dan sederhana (digambarkan hanya berupa satu garis ketika “mingkem”, atau 2-3 garis ketika mulut terbuka), hidung yang hanya berupa segitiga kecil dsb. Menurut Tatsu Maki dalam bukunya “how to draw and create manga” ciri khas ini membuat emosi karakter dapat ditunjukkan dengan lebih jelas, tampak lebih manis enak dilihat dan terlihat hidup. Selain pada wajah, terdapat pula ciri khas yang tidak ditemukan pada komik buatan negara lain, yaitu penggambaran karakter dengan gaya “chibi” atau menyerupai tubuh anak kecil. Gaya “chibi” ini umumnya digunakan untuk menunjukkan adegan-adegan yang mengarah ke kesan lucu, sehingga manga terlihat lebih menarik. Meskipun begitu banyak pula mangaka-mangaka yang menggunakan gaya chibi ini sebagai gaya gambar utama pada komik mereka. Ciri-ciri yang khas inilah yang membuat manga kini lebih mendapat tempat di hati para penggemar komik, Indonesia bahkan dunia.

Sejarah mencatat, pada awalnya komik masuk ke jepang sekitar awal abad ke-20. Ketika itu negeri Jepang ini sedang giat-giatnya mengadakan modernisasi dalam segala bidang, termasuk seni. Jepang mendatangkan seniman-seniman dari negeri-negeri barat untuk mengajari rakyatnya seni ala barat. Dari situlah komik masuk ke jepang, dan akhirnya komik jepang dikenal dengan “manga”. Pada jaman itu komik-komik jepang kebanyakan menggambarkan sindiran-sindiran politik ataupun humor dan halamanyapun singkat. Komikusnya (di jepang komikus disebut “mangaka”) yang terkenal adalah Rakuten Kitazawa, Ippei Okamoto, dll. Kebanyakan dari mereka belajar dari komikus-komikus barat (ms.wikipedia.org).

Kini tema komik-komik jepang alias manga telah berkembang sedemikian kompleks. Jika awalnya kebanyakan berupa sindiran politik ataupun homor, kini telah berkembang tema-tema lain seperti horror seperti Kimun Kamui , perang, robot (lebih dikenal dengan mecha) contoh paling terkenalnya Gundam , superhero, cinta, olah raga dengan maskotnya Captain Tsubasa atau Prince of Tennis , kehidupan remaja, dan tema-tema lain yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang ada komik yang terlalu banyak tulisannya sehingga para pembacanya merasa pegal-pegal karena membaca komik tersebut seperti Death Note dan Hikaru no Go . Ada juaga komik yang mudah sekali kita bacanya seperti adegan perkelahian atau pertarungan seperti Dragon Ball dan Kung Fu Boy . Keanekaragaman tema dan kemasan dari manga-manga ini jugalah yang membuatnya banyak disukai penggemar komik Indonesia, bahkan dunia. Kebanyakan manga dibuat dalam format berseri/berjilid-jilid ( Tankobon ) yang tiap jilidnya kebanyakan dicetak hitam putih. Selain itu ada pula yang diterbitkan dalam bentuk majalah.

Bagaimana dengan komik-komik Indonesia?

Bagaimana dengan komik Indonesia? Menurut sejarah, komik yang pertama dibuat di indonesia adalah jenis komik strip (biasanya hanya tersusun 1 kolom vertikal, atau 1 baris horizontal) pada tahun 1930-an. Saat itu dimuatlah komik strip Put On yang menceritakan seseorang bertubuh tambun yang konyol namun memiliki jiwa nasionalis yang tinggi, pada koran Sin Po . Pengarangnya bernama Kho Wang Gie (wah, jelas banget betapa kentalnya pengaruh budaya Cina saat itu!). Kemudian, di tahun 1960-an hingga 1970-an, berkembanglah komik-komik dengan genre persilatan dengan munculnya Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH, Panji Tengkorak , Gundala Putra Petir , Godam , dll. serta genre romantika remaja. Pada era ini pengaruh sastra asing mulai muncul pada komik-komik Indonesia, seperti pada Si Buta dari Goa Hantu yang selalu bersama monyetnya ini, merupakan adaptasi dari Tarzan yang juga selau bersama monyetnya. Di era ini kebanyakan komik dibuat sendiri langsung oleh pengarangnya.

Era berikutnya (tahun 1980-an sampai 1990-an) komik tidak lagi dibuat sendiri oleh pengarangnya, melainkan melalui sebuah kerja tim di bawah bendera suatu studio komik. jadi komik-komik seperti Caroq, Kapten Bandung, Avatar dan lain-lain ngetop dibarengi dengan ngetop pulanya studio komik tempat komik tersebut dibuat. Di era ini pula ”sentuhan teknologi” mulai masuk ke produksi komik-komik indonesia, seperti peggunaan program-program komputer untuk mendesain lay out sang komik. Tapi, sistem produksi ini lama-kelamaan berefek samping pada mahalnya harga komik. Kondisi ini diperparah dengan msuknya komik-komik impor terutama dari Jepang (manga) yang ongkos produksinya lebih murah dan otomatis harga jualnya pun lebih murah pula. Hal ini membuat banyaknya studio komik yang jatuh-bangun untuk bertahan (banyak juga yang jatuh ga bangun-bangun, waduh?!). komik impor pun makin merajalela. Akhirnya untuk mempertahankan esksistensi komik “made in indonesia” dibuatlah komik-komik indonesia yang mirip-mirp dengan manga. Meskipun banyak dikritik karena dianggap “nyontek”. Tapi menurut Indra Darmawan dalam artikelnya, Meramu Komik Indonesia, “ironi? Memang, tapi kalau boleh optimis, anggap saja ini proses pencarian jatidiri”

Kini sebagai lanjutan dari usaha mengembalikan kejayaan komik indonesia seperti era 60-70an dulu, komikus-komikus muda Indonesia mulai membuat dan menerbitkan komik mereka sendiri secara independen (oleh sebab itu, karya-karya mereka dikenal dengan “ komik Indie ”). Mereka merintis jalan untuk menemukan kembali konsep komik Indonesia. Meskipun begitu banyak tantangan yang mereka, tapi semangat dan idealisme mereka untuk terus berkarya membuat mereka tetap terus berjuang. Dengan terbentuknya komunitas-komunitas komik indie, perjuangan mereka kini akan semakin kuat, karena dukungan dari para peicinta komik indie yang banyak tergabung dalam komunitas komik indie itu sendiri. Apresiasi publik terhadap karya-karya merekapun akan sangat membantu mereka untuk kebali menemukan jatidiri serta konsep komik indonesia, dan jika ini berhasil (mudah-mudahan.. amien...!) agaknya kejayaan komik Indonesia tidak mustahil bakal terulang dan menyaingi manga-manga yang ada sekrang ini.


Sumber : http://www.kamenraider.byethost13.com

Oleh : M. Ardhya I.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Pencinta manga terus tumbuh di Indonesia. Berawal dari hobi membaca komik khas Jepang itu, kini banyak pencinta manga yang mulai menciptakan tokoh-tokoh seperti manga menjadi buku komik.

”Bisa dibilang sekarang ini justru banyak yang suka manga. Yang suka komik Barat ada, tetapi mungkin tidak sebanyak manga yang memang mudah ditemukan di negara kita,” kata Hunter, moderator mailing list indomanga yang ikut dalam pameran Indonesia-Japan Expo 2008 di Arena Pekan Raya Kemayoran, Jakarta, Minggu (2/11).

Manga adalah bahasa Jepang untuk komik, atau sering disebut juga dengan komikku. Semenjak tahun 1950-an, manga telah menjadi bagian penting dari industri dan kehidupan sosial masyarakat Jepang. Untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat, tidak sedikit perusahaan yang menulis sejarah dan aktivitas perusahaan dalam bentuk buku komik.

Menurut Hunter—yang masih kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta—orang tua hingga anak-anak yang tergabung di Komunitas Indomanga kebanyakan suka membaca komik.

Interaksi yang terus berlangsung di dunia maya ataupun lewat pertemuan langsung mendorong sejumlah pencinta manga untuk berani menciptakan tokoh-tokoh ”manga” dengan latar belakang cerita Indonesia.

Awalnya, tokoh-tokohnya meniru yang ada di manga, lalu berkembang dengan terciptanya tokoh dengan karakter yang mereka maui. ”Prosesnya terus berkembang hingga bisa membuat alur cerita dan jadi komik. Komiknya diterbitkan secara independen, yang peredarannya masih terbatas,” kata Hunter.

Ia mengatakan baru pertama kali ini komunitas yang sudah 1,5 tahun berdiri itu ikut pameran. Hunter menyebutkan, anggota komunitas ini mencapai 5.800 orang dari sejumlah wilayah di Indonesia. Ia pun mengakui, dalam proses penciptaan tokoh-tokoh komik yang dibuat anggota komunitas sini memang masih berkiblat pada manga.

Greg Gegana alias Lone, salah satu anggota komunitas indomanga, mengatakan keasyikan membuat komik karena pembuatnya harus menciptakan tokoh bergambar yang punya karakter. Mereka juga harus bisa membuat latar tempat untuk cerita dan alur cerita dari komik yang dibuat.

Minat anak-anak muda untuk tidak sekadar membaca manga, tetapi juga menciptakan manga dengan latar Indonesia itu terlihat dalam perlombaan membuat manga. Mereka mengembangkan kreativitas untuk bisa membuat manga yang menarik.

Selain pameran dan workshop manga, sejumlah aktivitas yang berlatar belakang budaya dan seni Jepang ataupun Indonesia bisa dinikmati pengunjung selama pameran berlangsung. Juga digelar seminar tentang investasi Indonesia, masa depan persoalan energi, pengelolaan lingkungan, dan daya saing perusahaan.


Sumber : http://bukuohbuku.wordpress.com


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Jika Anda ingin membuat komik, apa pun bentuknya; novel grafis, superhero, manga, komik strip atau komikweb, Anda sangat perlu memiliki buku Membuat Komik karya Scott McCloud ini. Buku ini mengungkapkan rahasia terlengkap tentang komik dan kekuatannya memikat pembaca. Tanpa teori yang bertele-tele dan sulit dimengerti, McCloud menerangkan tahap demi tahap pembuatan komik dengan gambar-gambar yang fun dan cerdas, seperti :

  • memilih momen yang tepat untuk dituangkan ke dalam panel.
  • membingkai aksi dan menuntun mata pembaca.
  • memilih kata dan gambar yang saling melengkapi.
  • menciptakan karakter yang beragam dan istimewa.
  • menguasai bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
  • menciptakan dunia khayal yang tampak nyata dan membawa pembaca ke dalam petualangan penuh makna.
  • memilih peralatan yang tepat dan memahami asal muasalnya.
  • menelusuri dunia gaya dan genre komik yang maha luas.


Kalian juga harus menjelaskan tentang sudut pandang panel yang baik, ekspresi yang tepat, serta beragam bentuk balon dan font di dalam komik. Dalam menerangkan teorinya, dan juga menggunakan contoh dari komik-komik terkenal karya Marjane Satrapi, David B, Neil Gaiman, Alan More, Herge, Osamu Tezuka, dan sang maestro Will Eisner. Membuat Komik adalah buku paling pintar tentang cara membuat komik!



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Translate

About me

About Me


Hello World. This blog is only for entertainment and my hobby only. enjoy it!

Follow Us

Total Tayangan Halaman

Postingan Populer

  • Perbedaan Tubuh Cowo Dan Cewe Tampak Depan
    Leher Cowok berukuran lebih lebar dan besar dari pada leher cewek, dan bentuknya juga lebih kaku. Pundak Cowok terlihat menonjol oleh otot. ...
  • Menciptakan Komik Kalian Sendiri
    Apa yang membuat sebuah komik disukai oleh para pembaca? Selain gambar-gambar ilustrasi yang bagus dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ki...
  • Perbedaan Muka/Wajah Manga Cowok Dengan Cewek Bag-2
    Tampak Depan : Perbedaan yang paling nyata terasa pada bentuk dan panjang wajah secara keseluruhan. Panjang hidung, besar mata serta lebar m...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  April (1)
      • Figure Manga team Akatsuki
  • ►  2011 (10)
    • ►  Agustus (10)
  • ►  2010 (33)
    • ►  November (33)
  • ►  2009 (118)
    • ►  November (7)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (9)
    • ►  Juli (11)
    • ►  Juni (11)
    • ►  Mei (22)
    • ►  April (20)
    • ►  Maret (13)
    • ►  Februari (11)

Followers

Hatsune Miku
FOLLOW ME @INSTAGRAM

|