Peralatan Menggambar Ku

by - 5/15/2009 03:15:00 AM

Nah rincian benda-benda yang kupakai untuk membuat karya gambar mangaku yaitu :



1. Kertas; yang kupakai adalah kertas HVS putih ukuran A4 80 gram. Lebih ringan dari itu bisa nyeplak atau tembus tintanya ketika ditinta, dan kadang-kadang bergelombang. Bisa juga pakai kertas gambar; tapi pilih yang berserat halus dan tidak meninggalkan banyak residu ketika dihapus. Kertas gambar yang cepat sobek ketika dihapus menyebabkan gambar kotor, dan yang jelas nggak bisa untuk pewarnaan, karena kertas itu keburu hancur duluan kena air dan cat. Untuk pewarnaan, sebaiknya kertas itu ‘diregangkan’ dulu sebelum dipakai, yaitu dibasahi dengan air, kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di atas papan sambil direntangkan keempat sisinya. Hasilnya, kertas itu akan memiliki tampilan seperti kertas khusus gambar cat air atau watercolor paper. Kalau yang mampu sih, beli aja watercolor paper yang merk Canson atau Windsor. Tapi itu kan harganya alamak mahalnya, jadi buat yang amatir, mending nyoba dulu pake kertas HVS deh, daripada rugi.

2. Pensil; aku lebih suka pakai pensil mekanik 2B, meskipun aku juga punya pensil kayu dan konte (pensil arang). Lebih praktis aja. Merk tidak mutlak harus yang bagus, meskipun aku lebih suka pakai pensil mekanik Rotring dibanding merk lain. Aku memikirkan pertimbangan kenyamanannya. Untuk pensil kayu, sebaiknya pilih Staedler atau Faber Castell, atau merk lain ukuran 2B, tapi jangan pakai pensil merk dari Cina yang bermotif garis-garis merah-hitam atau pensil fancy yang murah meriah itu, karena hasil goresannya kasar. Percayalah padaku, aku pernah menguji coba membuat gambar dengan berbagai jenis pensil yang (katanya) tipe 2B, tapi hasilnya malah kayak goresan pensil tipe H, tipis dan berbekas di kertas ketika dihapus. Untuk konte, aku hanya pernah mencoba merk Lyra, karena pensil jenis ini jarang ada di toko buku. Jenis konte tertentu sering dipakai untuk membuat sketsa di atas kanvas oleh para pelukis profesional, tapi untuk lebih tepatnya lagi aku kurang tahu, maaf, karena aku kurang suka melukis. Oiya, ada juga pensil biru fotografis, fungsinya sama seperti pensil biasa, yaitu untuk membuat sketsa gambar. Hanya saja apabila membuat gambar menggunakan pensil biru muda ini, setelah ditinta, sketsanya tidak perlu dihapus apabila mau dipindai ke dalam komputer atau difotokopi, karena warna biru muda ini tidak akan terpindai oleh mesin, sehingga pada hasil akhirnya, sketsanya tidak akan terlihat.

3. Penghapus; pilih penghapus yang empuk dan enak dipegang tangan, serta hasil hapusannya rapi dan bersih. Untuk merk, aku tidak pilih-pilih. Biasanya Staedler, entah yang Mars plastic atau Rasoplast, sama saja. Aku kurang suka merk Faber Castell, soalnya sering meninggalkan noda hitam di kertas. Merk Boxy adalah yang terbaik yang pernah kucoba; hasil hapusannya benar-benar bersih dan tidak merusak kertas, hanya saja harga penghapus itu mahal dan pemakaiannya boros, cepat habis. Pokoknya Boxy itu andalannya orang yang lagi ujian deh, soalnya kalau salah ngitemin, bisa dihapus dengan bersih (kok nggak nyambung ya, omongannya??). Yang penting, jangan sekali-kali memakai penghapus fancy yang bentuk dan aromanya lucu-lucu itu, entah yang bentuk kue, coklat, dsb, karena dijamin hasil hapusannya benar-benar kotor.

4. Alas gambar; pakai alas gambar yang rigid/keras, kalau bisa ya pakai papan jalan atau sejenisnya, meskipun nggak mutlak sih. Ilustrator profesional menggunakan meja gambar tersendiri yang bisa diatur-atur kemiringan dan sudutnya, tapi itu kan mahal dan merepotkan (karena butuh ruang tersendiri). Aku pakai papan jalan, yang sudah sangat butut lagi. Tapi kalo kepepet, aku pake buku sampul keras atau malah langsung di meja. Dua yang terakhir ini sebaiknya jangan dilakukan, karena bisa merusak gambar, dan untuk buku, bisa saja merusak bukunya. Sayang ‘kan?

5. Pena gambar dan tinta; aku pakai pena yang mungkin sudah hampir punah dari peradaban dunia (lebay deh…), yaitu pena celup gaya Cina. Tintanya juga tinta Cina. Pena semacam ini memiliki batang dan mata pena yang bisa dilepas dan diganti. Pena jenis ini, yang oleh mangaka Jepang sering disebut sebagai G-pen, memang sulit ditemukan di Indonesia. Yang aku punya harganya murah, soalnya aku beli di Semarang, di sebuah toko buku tua, yang setahuku memang cuma satu-satunya toko yang aku tahu menjual pena ini. Sedangkan G-pen a la mangaka Jepang tersedia di Machiko Manga School dan Kinokuniya, tentunya dengan harga yang sangat mahal. Untuk tinta, aku pakai tinta Cina yang harganya murah. Selain karena aku nggak bisa menemukan tinta India dan kalaupun ada, harganya mahal banget, tinta Cina ini sudah lumayan bagus kok. Intinya, untuk meninta, nggak mutlak pake pena dan tinta ini kok. Kau bisa pake benda lain yang serupa dengannya, semacam drawing pen atau technical pen.

6. Drawing pen; aku lebih sering pake drawing pen untuk meninta dibandingkan pena dan tinta, bener lho! Soalnya lebih praktis dan simpel. Memang hasilnya gak serapih pena dan tinta sih, tapi lumayan untuk pemula. Pilih drawing pen yang water proof dan tidak meleber ketika diaplikasikan pada kertas. Aku sering pakai merk Snowman, tetapi aku pakai itu karena itu yang paling murah (soalnya aku mempertimbangkan duit juga..), bukan karena itu yang paling bagus. Merk Yohken dan Simbalion juga bagus, tetapi yang menurutku paling bagus (dan juga yang paling mahal di antara keempat merk itu) adalah merk Sakura Pigma Micron. Untuk merk ini, selain ukuran standar semacam 0.1, 0.2, dst, ada juga brush pen, yaitu drawing pen yang bermata kuas. Pen yang ini banyak berguna untuk menghitamkan rambut. Untuk meninta, pilih 0.05 untuk helai rambut, 0.1 dan 0.2 untuk karakter, 0.3 untuk pakaian, dan 0.5 untuk garis tepi panel (untuk yang membuat komik). Aku normalnya pakai pen ukuran 0.1 dan 0.2 saja untuk berbagai keperluan. Males soalnya, hehe! Perbedaan ketebalan garis dalam mangamu akan menambah hidup jalan ceritamu.

7. Technical pen; aku cuma punya dua jenis, merk Rotring Rapidograph ukuran 0.1 dan 0.3. soalnya mahal sih. Pertimbanganku memilih Rapidograph adalah karena dia menggunakan capiller cartridge untuk tintanya, dan bukan diisi ulang. Jadinya lebih praktis kan. Garis yang dihasilkan oleh pen jenis ini lebih rapi dan mulus dibandingkan garis yang dihasilkan oleh drawing pen atau pena dan tinta biasa. Tetapi aplikasinya terbatas pada pembuatan latar belakang, karena, aku pernah mengujinya sendiri, meninta gambar karakter menggunakan technical pen benar-benar boros dan melelahkan (soalnya pen jenis ini nggak cocok digunakan untuk penintaan spontan; lebih sering digunakan untuk penintaan gambar yang banyak detil terperinci dan tebal-tipisnya garis sudah diperhitungkan). Intinya, benda ini nggak mutlak dibeli untuk membuat gambarmu.

8. Penggaris; pilih pengaris sesuai kebutuhanmu. Aku menggunakan dua jenis penggaris, logam dan plastik. Penggaris logam kupakai untuk memotong kertas menggunakan cutter dan keperluan lain selain menggambar, sedangkan penggaris plastik kupakai dalam proses menggambar. Pilih penggaris plastik yang transparan, memiliki ukuran yang jelas, dan sebaiknya memiliki tepian yang meruncing. Ingat, ketika meninta, penggaris dibalik sehingga tepian itu berada di atas, jadi tinta tidak akan meleber di kertas. Jangan menggunakan penggaris fancy yang memiliki banyak ornamen dan hiasan gambar di permukaannya, atau yang panjangnya kurang dari 15 cm, karena akan mengganggu kinerjamu ketika menggambar.

9. Kuas; fungsinya untuk menghitamkan rambut dan mewarnai gambar. Pilih kuas yang berbulu lentur dan rapi, serta enak dipakai. Ada dua jenis kuas, yaitu sable, yang lentur dan lebih sering dipakai untuk cat air atau cat poster, dan bristle, yang kaku dan lebih sering dipakai untuk cat minyak. Aku memakai jenis sable imitasi (yang asli mahal banget bo!!), kuas berbulu sintetik berwarna jingga, karena enak dipakai dan lentur dalam aplikasinya. Kuas ini tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 1 sampai 12, tetapi untuk mewarnai gambar, sebaiknya kau punya minimal mulai ukuran 1 sampai dengan 7. Merk yang sering kupakai adalah Picasso, selain karena cukup terjangkau, kuas itu juga enak dipakai. Untuk yang mampu dan berniat serius dalam mewarnai menggunakan water color, pilih aja merk Reeves atau Windsor, yang harganya alamak mahalnya, tetapi jelas sangat nyaman dan enak dipakai (harga menentukan kualitas… kenyataan yang kejam, hiks…). Jangan sekali-sekali pilih kuas merk Pagoda, yang berbulu hitam jigrak dan cepat rontok. Aplikasi kuas itu sangat buruk di atas kertas, karena ketidakrapian bulunya itu membuat cat menjadi tersebar tidak merata dan menghasilkan gambar yang buruk pula.

10. Cat poster; sebaiknya punya warna hitam, putih, dan abu-abu. Fungsi cat poster ini adalah untuk mewarnai bidang gambarmu, kalau kau bikin gambar hitam-putih, cat ini bisa diaplikasikan sebagai pembentuk bayang-bayang, alih-alih pakai screen tone yang mahal. Cat hitam bisa dipakai untuk menghitamkan gambar rambut. Aku sudah mencoba beberapa merk cat poster, yang pertama Snowman, Sakura, Evergreen, dan Pentel. Yang paling bagus menurutku Pentel, tetapi Sakura lebih ekonomis, dengan mutu yang kurang lebih setara. Snowman memiliki bau yang tidak enak, sedangkan Evergreen dalam aplikasinya kurang merata warnanya.

11. Screen tone; aku benar-benar tidak menyarankan yang satu ini, kecuali kamu benar-benar manusia berduit, berbakat, dan berkeinginan kuat untuk menjadi komikus profesional… terutama banget, berduit. Soalnya harga perlengkapan gambar yang satu ini, dibandingkan bentuknya yang tidak seberapa, mahal banget!! Tentunya harga mahal itu terbayar oleh hasil gambar yang sangat rapi, indah, dan memukau, terutama gradasi dan bayangan yang rapi dan mendetail, yang hanya bisa dibuat dengan menggunakan screen tone. Screen tone merupakan semacam stiker tekstur, yang dalam aplikasinya pada gambar, tinggal dipotong-potong sesuai kebutuhan dan ditempelkan untuk menghasilkan efek pada gambar. Penggunaan screen tone manual sekarang ini banyak digantikan oleh CG, yang lebih umum dimiliki oleh orang. Untuk membeli bahan ini, hanya bisa di Machiko Manga School atau Toko Buku Kinokuniya, Sogo. Aku punya dua, itu juga yang merk Rugos, yang lebih murah (masih mahal juga menurut ukuran kantongku…), dan kupakai hanya sekali-kali saja. Aku lebih sering membuat bayangan menggunakan cat poster atau akhir-akhir ini, CG. Jadi buat kamu-kamu pemula yang mau mencoba menggambar, jangan pakai yang ini dulu deh! Ntar rugi di kamu.

12. Cutter; untuk memotong kertas dan keperluan lain. Pilih sesuai kebutuhan kamu, mau yang besar atau yang kecil, tapi jangan terlalu kecil ya, nanti repot memeganginya. Paling enak pakai cutter ukuran besar yang berkunci pengaman, selain mantap dan enak digenggam, hasil potongannya juga lebih bersih dan rapi.

13. Water color atau poster color; untuk mewarnai gambar, dasarnya sama-sama dicampur air, hanya saja warna water color lebih transparan, sedangkan poster color lebih matte atau pekat. Ada juga gouache water color, yaitu water color yang memiliki warna yang lebih cemerlang dan pekat dibandingkan water color biasa, tetapi tidak sepekat poster color. Aku lebih menyukai gouache dibandingkan dua jenis yang pertama, soalnya gouache menggabungkan kelebihan dari dua jenis cat yang pertama. Merk terbaik yang pernah kupakai adalah Pentel Water Color, yang meskipun hanya mencantumkan titel water color, tetapi kualitas warnanya setara dengan gouache. Merk Osama Gouache Color (bukan Osama bin Laden lho ^ ^) juga lumayan bagus, tetapi tidak secemerlang Pentel. Kelebihannya adalah pada kemasannya yang bisa berfungsi sekaligus sebagai palet catnya, jadi lumayan praktis, kalau kamu lagi nggak punya palet nganggur. Merk Marie’s dan Lyra juga bagus hasilnya. Untuk poster color, paling bagus merk Pentel, lalu Sakura, soalnya mereka mempunyai warna yang cemerlang dan pekat yang sangat bagus. Untuk yang pemula, coba pakai merk Mr. Guitar dulu, jangan langsung beli yang mahal. Soalnya semua merk yang kusebut di atas, harganya lumayan merogoh kocek lho, terutama Pentel dan Lyra. Hanya saja, kekurangan dari merk yang, maaf, murahan itu, adalah warna yang dihasilkan kurang cemerlang dan aplikasinya kurang merata di kertas.

You May Also Like

0 komentar